Tentang Gampong

Sejarah Tanjong Seulamat

Nama gampong ini berasal dari letaknya di antara dua area persawahan yang memanjang dari Barat ke Timur — ditandai oleh dua Tanjong lama, Tanjong Cot Jambee dan Tanjong Runtuh, yang disatukan menjadi satu nama pada tahun 1946.

Menurut narasumber M. Ali Basyah (Alm), nama “Tanjong” sudah dikenal sejak dahulu kala, merujuk pada posisi gampong yang diapit dua hamparan sawah dari arah Barat ke Timur.

Sebelum 1945
Dua Tanjong Terpisah

Wilayah ini terbagi atas Tanjong Cot Jambee dan Tanjong Runtuh, masing-masing dipimpin oleh seorang keuchik dan dua orang wali keuchik.

1946
Nama "Tanjong Seulamat" Disepakati

Saat H. Alibasyah menjabat asisten wedana Kecamatan Darussalam, gampong-gampong diwajibkan mendaftarkan nama. Tokoh gampong bermusyawarah dan menetapkan nama Tanjong Seulamat.

1977
Satu Keuchik, Satu Gampong

Sistem dua orang wakil keuchik yang mewarisi era dua Tanjong resmi berakhir, menyatukan kepemimpinan gampong sepenuhnya.

Gampong Tanjong Seulamat kini terdiri dari empat dusun — Cot Jambee, Lampoh Jantong, Lampoh Goeng, dan Popeh — di Kemukiman Tungkop, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Letaknya strategis, diapit tiga kampus ternama: Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, dan STAI Tgk. Chik Pante Kulu, sehingga banyak dihuni mahasiswa perantau. Selengkapnya soal wilayah dan batas gampong ada di halaman Profil Gampong.

Sejarah Pemerintahan Gampong

16 masa kepemimpinan · sejak 1920
1920–1940Muhammad DaudPendiri Gampong
1941–1946AbdullahTuan Tanah
1947–1958Syeh
1959–1964Harun
1965–1969Usman Gani
1970–1972Usman Makam
1973–1976Harun
1977–1978Abdulmanaf Ibrahim
1979–1987Abdullah Ubit
1988–2006Drs. Rusli UsmanTerlama · 18th
2007–2013M. Yunus Ishaq
2013–2014HusainiPj. Keuchik
2014–2018H. Buchari Juned
2018–2019HusainiPj. Keuchik
2019–2025Salamun, SH
2025–sekarangFadhli H. Nurdin, M.PdKeuchik saat ini

Sejarah Pembangunan Gampong

Pembangunan Gampong Tanjong Seulamat dimulai sejak masa Keuchik Abdullah pada tahun 1941, diawali pembangunan menasah berbentuk rumah Aceh secara swadaya masyarakat. Dari generasi ke generasi, pembangunan terus berlanjut — sarana ibadah, jalan, irigasi, gedung PKK, kantor Geuchik, hingga berbagai infrastruktur lain — dan kini terus berjalan dengan dukungan Dana Desa.

Menasah Rumah Aceh (1941)Sarana Ibadah & JalanIrigasi & Gedung PKKKantor GeuchikDana Desa (berlanjut)
16Masa kepemimpinan sejak 1920
1946Nama gampong ditetapkan
18thMasa jabatan terlama
4Dusun saat ini