Tentang Gampong
Sejarah Tanjong Seulamat
Nama gampong ini berasal dari letaknya di antara dua area persawahan yang memanjang dari Barat ke Timur — ditandai oleh dua Tanjong lama, Tanjong Cot Jambee dan Tanjong Runtuh, yang disatukan menjadi satu nama pada tahun 1946.
Menurut narasumber M. Ali Basyah (Alm), nama “Tanjong” sudah dikenal sejak dahulu kala, merujuk pada posisi gampong yang diapit dua hamparan sawah dari arah Barat ke Timur.
Wilayah ini terbagi atas Tanjong Cot Jambee dan Tanjong Runtuh, masing-masing dipimpin oleh seorang keuchik dan dua orang wali keuchik.
Saat H. Alibasyah menjabat asisten wedana Kecamatan Darussalam, gampong-gampong diwajibkan mendaftarkan nama. Tokoh gampong bermusyawarah dan menetapkan nama Tanjong Seulamat.
Sistem dua orang wakil keuchik yang mewarisi era dua Tanjong resmi berakhir, menyatukan kepemimpinan gampong sepenuhnya.
Gampong Tanjong Seulamat kini terdiri dari empat dusun — Cot Jambee, Lampoh Jantong, Lampoh Goeng, dan Popeh — di Kemukiman Tungkop, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar. Letaknya strategis, diapit tiga kampus ternama: Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, dan STAI Tgk. Chik Pante Kulu, sehingga banyak dihuni mahasiswa perantau. Selengkapnya soal wilayah dan batas gampong ada di halaman Profil Gampong.
Sejarah Pemerintahan Gampong
16 masa kepemimpinan · sejak 1920Sejarah Pembangunan Gampong
Pembangunan Gampong Tanjong Seulamat dimulai sejak masa Keuchik Abdullah pada tahun 1941, diawali pembangunan menasah berbentuk rumah Aceh secara swadaya masyarakat. Dari generasi ke generasi, pembangunan terus berlanjut — sarana ibadah, jalan, irigasi, gedung PKK, kantor Geuchik, hingga berbagai infrastruktur lain — dan kini terus berjalan dengan dukungan Dana Desa.